Student Association of Food Science and Technology

Himitepa, Kini dan Nanti

Himitepa, Kini dan Nanti

Pangan merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar manusia untuk bertahan hidup. Kebutuhan akan pangan kerap meningkat dengan terus meningkatnya populasi manusia dewasa ini. Oleh karena itu, tuntutan akan tenaga profesional yang ahli dalam bidang teknologi pangan dan juga memiliki softskill yang baik pun terus meningkat. Merupakan salah satu peran departemen ilmu dan teknologi pangan Fateta IPB dalam memenuhi kebutuhan tersebut, dan Himitepa hadir untuk ikut serta mendukung pemenuhan kebutuhan tadi.

Himitepa sendiri merupakan sebuah organisasi kemahasiswaan berbentuk himpunan keprofesian yang berada pada tingkat departemen, yaitu departemen ilmu dan teknologi pangan Fateta IPB. Berdiri pada tanggal 16 Oktober 1981, Himitepa hadir dengan tujuan untuk mengembangkan minat dan bakat mahasiswa di bidang keprofesian ilmu dan teknologi pangan, menciptakan insan akademis, pencipta dan pengabdi ilmu sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi, menjalin persatuan dan kesatuan serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa di bidang keprofesian ilmu dan teknologi pangan.

Tiga puluh tiga tahun sudah Himitepa berdiri. Di kepengurusan tahun ke tiga puluh tiga ini, disamping kelebihan dan kesuksesan-kesuksesan yang telah diraih, saya masih melihat adanya beberapa kekurangan yang harus segera diperbaiki. Tiga kekurangan utama yang saya amati terjadi di himitepa kini adalah (1) kurang kritisnya pola pikir pengurus (2) kurangnya manfaat langsung dari himitepa kepada anggota non-pengurus, dan (3) kurangnya upaya untuk menjalin hubungan yang kuat dengan alumni ITP.

Untuk menjadikan Himitepa lebih baik di tahun 2015, saya membawa tiga buah poin dalam visi saya yang memang berfokus untuk menjawab tiga permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya. Poin pertama visi saya adalah terciptanya iklim berpikir kritis di lingkungan Himitepa sebagai salah satu landasan untuk melangkah maju. Saya melihat saat ini banyak pengurus dan juga anggota himitepa yang kurang menerapkan pola berpikir kritis. Hal ini terlihat dari kurangnya pengkajian ulang program-program himitepa yang akan dilaksanakan. Pada kenyataannya, diawal masa kerja anggota divisi langsung dijadikan penanggung jawab sebuah program yang memang sudah ada turun-temurun tanpa mengkaji terlebih dahulu program mana saja yang masih layak dilanjutkan dan yang tidak, apa latar belakangnya, apa dan siapa targetnya, apa indikator keberhasilannya, dll. Padahal pengkajian seperti ini sangatlah diperlukan agar suatu kegiatan tidak berjalan secara buta tanpa tahu tujuan.

Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengajak seluruh pengurus himitepa agar membiasakan mengkaji dan belajar dari segala capaian tahun sebelumnya lalu kritis dalam menentukan langkah yang akan diambil berdasarkan pertimbangan baik dan buruknya, bukan berdasarkan kebiasaan semata.

Poin kedua adalah Himitepa yang dapat memberikan manfaat nyata. Poin ini difokuskan terlebih dahulu kepada anggota himitepa non-pengurus. Karena saya merasa masih melihat adanya anggota himitepa non-pengurus yang belum merasakan manfaat dari keberadaan himitepa. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan himitepa yaitu mengembangkan minat dan bakat mahasiswa dalam bidang keprofesian pangan. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu ditingkatkan kesadaran seluruh anggota himitepa akan pentingnya pengetahuan akan dunia industri pangan dan ilmu terkait. disaat yang bersamaan, himitepa juga wajib untuk terus berupaya menyediakan event-event yang dapat memperluas wawasan anggotanya.

Poin ketiga visi saya adalah Himitepa sebagai suatu perekat yang akan menjalin hubungan berkesinambungan antara mahasiswa ITP dengan, dosen, alumni dan stakeholder industri pangan. Kenyataan yang saya lihat pada himitepa saat ini adalah, pengurus hanya fokus kepada pelaksanaan program dan acara divisinya masing-masing, kontak dengan alumni seringkali hanya saat membutuhkan bantuan finansial saja. Bahkan divisi eksternal himitepa pun juga seperti itu. Hal ini tak bisa dipungkiri merupakan penyebab utama kurang baiknya hubungan antara himitepa dan alumni ITP. Padahal jika kita perhatikan, alumni ITP IPB terkenal dengan kesuksesannya di dunia industri pangan dan banyak yang bahkan menempati posisi penting di perusahaan pangan dan juga pemerintahan. Apabila hubungan dengan Alumni dapat terjalin dengan baik, tentu saja akan sangat memudahkan mahasiswa ITP dalam mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia karir pasca kampus.

Untuk mewujudkan poin ketiga ini, saya akan mengupayakan pendataan secara lengkap alumni-alumni ITP, bagaimana keadaan mereka, dimana mereka bekerja saat ini, dll. Setelah terdata, saya akan mencoba mencari tahu feedback apa yang sebenarnya diharapkan oleh alumni ITP dari keberadaan Himitepa, lalu akan terus dijaga secara berkala hubungan antara himitepa dan alumni ITP.

Apabila kita melihat divisi yang ada di himitepa sekarang ini, tugas ini seharusnya dilimpahkan ke divisi eksternal. Namun jika kita mengkaji kenyataan yang ada, divisi eksternal sangatlah disibukkan dengan program-program mereka sehingga tidak ada cukup ruang untuk membina hubungan dengan alumni. Untuk itu saya mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah biro PR (public relation) himitepa, dimana tugas utama dari biro PR ini adalah untuk melakukan pendataan alumni-alumni ITP, menjaga hubungan baik antara himitepa dengan dosen dan juga alumni dengan cara menjaga komunikasi secara kontinyu dengan mereka.

Untuk melaksanakan visi dan misi diatas, saya memiliki beberapa keuntungan yang dapat saya manfaatkan. Pertama adalah beasiswa MAW (M. Aman Wirakartakusumah) Foundation yang saya peroleh. Beasiswa ini merupakan beasiswa yang diberikan hanya kepada mahasiswa ilmu dan teknologi pangan, pengurus foundation ini pun seluruhnya merupakan alumni ITP IPB yang telah bekerja. Beasiswa MAW menyediakan link alumni yang sangat besar, sehingga dapat mendukung visi saya untuk menjadikan himitepa perekat dan penghubung antara mahasiswa dan alumni ITP.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pun saya yang masih memiliki banyak kekurangan. Salah satu kekurangan terbesar yang saya rasakan yang sangat menghabat saya dalam mewujudkan segala visi dan misi saya adalah pembawaan saya menyikapi sesuatu hal sangatlah to the point dan sesekali diselipi oleh emosi. Pengendalian emosi inilah yang masih harus saya sempurnakan, karena memang tidak semua orang bisa diperlakukan sama.

 

by Gilang Indy Ashari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *