Tag: dppi

[PRESS RELEASE] Sahabat Desa

cafe

PRESS RELEASE: Sahabat Desa

Kegiatan Sahabat Desa dilaksanakan di Desa Cikarawang yang terdiri dari pelatihan pengolahan sari buah yang baik dan benar serta penyuluhan mengenai keamanan pangan. Pelatihan pengolahan sari buah dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2017 yang dihadiri oleh anggota kelompok wanita tani Dahlia.

Continue reading

Food Alert; Carbonated Drinks

10703779_10202740217255687_956729097765693380_n

Siapa Takut Makan Mie Instan?

Hai sahabat FOOD ALERT! semuanya, FOOD ALERT! datang menyapa, kali ini ini kita bahas soal mie instan yuk…

 

Semua pasti udah taulah apa itu mie instan, secara makanan murah meriah ini salah satu teman akrab mahasiswa di akhir bulan *pengalaman hahaha*. Nah, sering denger kan rumor-rumor diluar sana kalo mie instan itu nggak sehat. Mie instan itu berbahaya, mengandung lilinlah, bisa menyebabkan tumor, kanker dan penyakit lain yang seram-seram. Sekarang coba kita bahas satu-satu ya…

 

  • Mie instan mengandung lilin

Isu ini cukup marak nih, katanya mie instan mengandung lilin untuk mencegah mie saling menempel. Ini jelas tidak benar, tidak ada itu cerita mie instan pake lilin,  *nah, itu minyak-minyak yang muncul pas waktu kita rebus mie* Tenang… itu bukan lilin kok, itu minyak kawan… Prof Dr FG Winarno mengatakan bahwa mi instan awet dan tahan simpan karena proses pembuatannya, antara lain dengan cara penggorengan atau deep frying yang membuat kadar air mi instan menjadi sangat rendah (sekitar 5 persen), sehingga tidak memungkinkan bakteri pembusuk hidup dan berkembang biak. Karena kadar air yang sangat rendah tersebut, mi instan bersifat sangat awet. Karena prosesdeep frying tersebut menggunakan minyak goreng, tidaklah aneh kalau sewaktu memasak mi instan terlihat berminyak. Tapi tidak mengandung lilin karena lilin adalah senyawa inert untuk melindungi makanan agar tidak basah dan cepat membusuk. Dan itu terdapat pada makanan seperti apel dan kubis, See… no wax in your noodle.

 

  • Air rebusan mie harus dibuang

Nah, kalo yang ini sangat berkaitan dengan kasus di atasnya. Katanya sih, biar lilinnya nggak kemakan dibuang aja air rebusannya. Udah dibahas sebelumnya, kalo di mie instan nggak ada lilin. Membuang air rebusannya justru membuang banyak nutrisi loh… *kok bisa?* kalian pernah membaca bungkus mie instan? Ada kalimat dilengkapi dengan vitamin bla bla bla gitu kan? Sudah jelas juga ada vitamin-vitamin dan mineral yang larut air. Jadi, sewaktu kita merebus mie, vitamin dan mineral itu terlarut dalam air rebusan mie. Tapi, pilihan dikembalikan kepada teman-teman, mungkin ada yang masih takut, atau telah terbiasa mengganti air rebusan. It’s your choice, yang penting udah tau kondisi sebenarnya kan? J

 

  • Mie instan tidak boleh dimasak bersama bumbunya, pemanasan di atas 120 derajat Celsius berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker

Wooo…. Isu yang sangat seram. Benarkah demikian? Ternyata tidak. Demikian kata Prof Dr FG Winarno, ahli pangan dan Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman). “Mi instan kering merupakan produk setengah matang. Disebut instan karena sangat cepat disajikan setelah dipanaskan pada suhu air mendidih. Biasanya kurang lebih 100 derajat Celsius dalam waktu kurang dari 5 menit. Jadi, suhunya bukan 120 derajat Celsius, di mana suhu tersebut baru dapat dicapai bila menggunakan pressure cooker atau retort untuk strelisasi dalam proses pengalengan pangan,” terangnya. Satu-satunya alasan kenapa mie nggak boleh dimasak sama bumbunya adalah nanti mie kamu jadi nggak enak *hah? kok gitu?* hahaha, simple, semua sudah ada takarannya, kalo kalian ngerebus mie bener-bener pake air 400cc sih nggak papa, tapi sepertinya sebagian besar dari kalian nggak pernah ngukur air sebelum masak, bener kan? hehe biar rasa mie tetap enak, makanya kita dianjurkan masukin bumbu di mangkuk, karena takaran mangkuk hampir pas, yah, kalo keasinan tinggal ditambah air sedikit. Coba kalo udah dimasak sama bumbunya, kalo kebanyakan air kan jadi nggak enak mie’nya 😛

 

  • Adanya kandungan Natrium

Hmmmm… kenapa ini berbahaya?  Disebutkan disalah satu situs bahwa kandungan natrium bisa membahayakan anda yang memiliki/mengidap sakit hipertensi dan maag. Tentu saja didalam mie instan terdapat Natrium. Kalian tentu tau garam dapur, tentu tau rumus kimianya, NaCl, Natrium Klorida, dan selama ini garam tidak pernah dilarang beredar atau ditarik oleh BPOM. Jadi jangan khawatir kalau mie instan mengandung natrium. Hei, bikin mie instan pasti pakai garam 😀

 

  • Mie instan mengandung MSG

Sudah baca artikel FOOD ALERT! sebelumnya? MSG tidak berbahaya asal tidak digunakan terlalu banyak. Lembaga pengawas kesehatan, seperti Depkes maupun WHO atao Codex, telah menyatakan bahwa MSG merupakan jenis bahan tambahan makanan yang tidak dilarang penggunaannya dalam industri pangan (sepanjang tidak melampaui batas aman yang distandarkan). “Mi instan menggunakan bahan pengawet. Dalam proses pembuatannya, mi instan mi instan menggunakan metode khusus agar lebih awet, namun sama sekali tidak berbahaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, salah satu cara pengawetan mi instan adalah dengan deep frying yang bisa menekan rendah kadar air sekitar 5 persen. Metode lain adalah hot air drying (pengeringan dengan udara panas). Inilah yang membuat mi instan bisa awet hingga 6 bulan, asalkan kemasannya terlindung secara sempurna,” tambah Prof Dr FG Winarno.

 

Mie instan memang bukan makanan yang sempurna. Ragam gizi didalamnya sangat minim. Mi instan sendiri mengandung protein, lemak, vitamin A, C, B1, B6, B12, niasin, folat, pantotenat, dan mineral besi. Mi instan pun telah dilengkapi dengan sayuran seperti wortel. Namun jumlahnya memang tak sebanyak yang diperlukan. Jadi, harus dilengkapi dengan makanan lain. Itulah yang tertera pada saran penyajian. Jika ingin makan mi instan dan mendapat asupan gizi, tambahan telur, sayur, atau daging sehingga mi instan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi. Lalu minum jus buah tanpa gula, sehingga sumbangan fruktosa bagi tubuh terpenuhi

 

Sumber : http://astitheminority.abatasa.co.id/post/detail/7569/mie-instan-mengandung-zat-bergizi-untuk-tubuh.html

FOOD ALERT! by DPPI-HIMITEPA
@food_alert

MSG, amankah?

Kalian semua pasti tau apa itu MSG. Yap, zat ini termasuk salah satu jenis BTP atau Bahan Tambahan Pangan. MSG yang juga dikenal dengan nama vetsin atau mecin berfungsi sebagai flavor enhancher (penguat rasa). Monosodiumglutamat (MSG) adalah molekul yang terbentuk dari logam natrium dan gugus asam amino glutamat. Glutamat sendiri adalah asam amino non essensial yang dapat diproduksi oleh tubuh manusia. Kadar natrium dalam MSG hanya sepertiga dari natrium pada garam dapur. Dari kandungan natriumnya dapat dipastikan pengaruh MSG lebih lemah dibanding garam dapur. Selain dari MSG, glutamat juga terdapat pada makanan sumber protein nabati dan hewani (mis: susu, keju, daging, kedelai dan gandum). Apabila terdapat kelebihan glutamat dalam tubuh maka akan diubah menjadi senyawa lain seperti alanin yang akan diubah menjadi alpha ketoglutarat. Kemudian zat-zat metabolit tersebut akan dipakai dalam gluconeogenesis (pembentukan glukosa).

Di Indonesia sendiri penggunaan MSG dalam makanan masih merupakan perdebatan. Banyak yang mengatakan bahwa mengkonsumsi MSG dapat menyebabkan kebodohan hingga kanker. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Sampai saat ini belum berhasil dibuktikan bahwa MSG dapat menyebabkan kebodohan. Malah, Negara-negara maju seperti Singapura, Hongkong dan Taiwan memiliki tingkat konsumsi MSG yang jauh lebih tinggi dari Indonesia. Konsumsi MSG di Indonesia rata-rata setiap orang per tahun dalam tahun 1999 hanya 300 gram. Angka untuk Negara maju di Asia pada tahun 1996 untuk Jepang adalah 790 gram, Korean 1250 gram, Taiwan 1800 gram, Hongkong 1300 gram dan Singapura 1600 gram. Terlihat bahwa SDM di Negara-negara tersebut tidak lah buruk, taraf kehidupan mereka nyatanya lebih baik serta memiliki teknologi yang lebih tinggi.

Belum pernah ada laporan bahwa ada orang yang jatuh sakit karena mengkonsusmsi MSG, apalagi terkena kanker. Di Amerika Serikat undang-undang yang mengatur Makanan, Obat dan Kosmetika menetapkan dalam salah satu pasal menyebutkan bahwa bahan makanan yang bisa menimbulkan kanker pada hewan percobaan harus dilarang beredar, sekalipun bahan makanan itu aman bagi manusia. Amerika Serikat sendiri menggolongkan MSG sebagai “Generally Recognized as Safe” atau aman untuk dikonsumsi sehari-hari. Suatu BTP tidak mungkin digolongkan sebagai GRAS apabila di khawatirkan akan menyebabkan suatu penyakit, apalagi kanker.

Menurut Dr. Kunio Torii Institute for Innovation Jepang, glutamat dapat meningkatkan sekresi saliva, menekan obesitas, hingga mendukung kesehatan otak. “Asam glutamat memiliki peranan tersendiri bagi tubuh, mulai dari ketika masuk di mulut hingga proses pencernaan lanjutan dalam usus, “ kata Torii. Beliau menjelaskan, bahwa asam glutamat sebenarnya berada dalam darah dalam jumlah konstan. Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB, Prof. Hardinsyah menjelaskan peranan utama glutamat. “Glutamat sangat vital dalam mendukung fungsi otak dan metabolisme, seperti produksi energi dan biosintesis protein. Di dalam tubuh, sebagian besar glutamat terdapat dalam otot dan otak”. You are what you eat and you eat what taste good, jadi gausah takut sama MSG selama tidak digunakan secara berlebihan.

July 20, 2013 at 11:04am
FOOD ALERT! by DPPI-HIMITEPA, Ais